Kelapa sawit pada umumnya ditanam pada lahan suboptimal, baik pada tanah kering masam, tanah gambut, tanah Sulfat masam, maupun lahan masam lainnya. Fakta: kebun kelapa sawit, khususnya “kebun rakyat”, produksi TBS-nya rendah, kurang dari 2 ton per hektar per bulan per panen. Semestinya potensi produksi
kelapa sawit adalah 2 – 2,5 ton TBS per bulan per hektar, atau 24 – 30 ton TBS per hektar per tahun. Pada lahan suboptimal dengan tanah masam (pH<5), ketersediaan unsur hara makro (N, P, K, S, Ca dan Mg) sangat rendah. Miskin unsur hara, juga rendah kandungan bahan organik. Sebaliknya tinggi unsur zat alumunium (Al), zat mangan (Mn) dan zat besi (Fe), zat yg dalam jumlah tinggi menjadi toksik meracuni tanaman. Tanah masam tidaksubur, menyebabkan rendah produksi TBS kelapa sawit.
Memupuk kelapa sawit pada lahan masam tanpa memperbaiki pH tanah tidak akan memperbaiki kesuburan tanah, tidak maksimal menyuburkan pertumbuhan tanaman, apalagi meningkatkan produksi tandan buah sawit (TBS). Efektifitas dan efisiensi penyerapan hara sangat rendah tanpa pengapuran tanah lebih dulu. Pertumbuhan tanaman yang subur dengan hasil produksi yang tinggi, ditentukan oleh pH tanah dan ketersediaan unsur hara makro (N, P, K, S, Ca dan Mg), serta kecukupan zat organik dalam tanah.
Pada tanah masam, zat Besi (Fe), zat Alumunium (Al) dan zat Mangan (Mn) cukup tinggi, sehingga akan meracuni tanaman. Zat-zat tersebut juga memfiksasi dan mengikat zat N (Nitrogen) dan zat P (Fosfor), yang merupakan unsur hara makro esensial bagi tanaman, sehingga zat N dan P tidak dapat diserap oleh tanaman, akibatnya tanaman tumbuh kurang subur dan rendah produksi TBS. Kelapa sawit tumbuh subur dan sehat dengan produksi buah yang tinggi pada kisaran pH tanah 5,5 sampai pH 6,5, serta tercukupi hara makro dengan pemupukan, oleh karena itu pengapuran dan pemupukan harus dilakukan.

